Dibalik Lirik Katakan Sejujurnya (Komentar Pribadi)
Sejujurnya kukatakan, lagu ini mewakili perasaan orang yang butuh kepastian. Andai ku tak bertemu, aku tak akan mengerti rasanya rindu. Andai ku tak bertemu, aku tak akan mengerti rasanya sakit. Kini harus kujalani dan kuhadapi untuk kesekian kalinya. Rasa itu, rasa yang seketika muncul dan entah kapan berlalu.
Sempat terbesit olehku, mudah saja mengakhirinya. Aku sudah di tahap ini melangkah dengan dua kakiku. Sudah kucoba berjuang sekuat tenaga untuk membuka dan menutup mata dihadapannya. Sampai akhirnya aku sadar, pupus.
Percuma aku mau berjuang sekuat tenaga. Benar kata orang, memulai nya mudah saja, mengakhirinya lebih dan sangat mudah, menjaga dan membinanya yang teramat sulit. Tak cukup pengorbanan jika tak jalan berdampingan dan beriringan. Tak cukup kerja keras jika tak sanggup meluangkan kebersamaan yang akan hilang oleh waktu. Moment. Bukannya berlari dan semua pencapaian ini karena moment "sah" saat malam mulai menghangat di tubuh kita. Lantas mengapa saat ini selalu ego dengan mencari pencapaian dengan alasan demi kita bersama. Kita gantungkan waktu kebersamaan dan kenyamanan satu sama lain di atas katrol sumur yang dalam. Dengan sekejap katrol itu pun akan masuk ke dasar sumur dan kita terlambat untuk menyadarinya.
Benar kata teman laki-laki, bapak dari anak2 nya, pekerja salah satu perusahaan swasta itu yang pernah menjadi partner dalam kerja mu. "Everyday for relationship need "love you", "thank you", and "help me please"." Yaaa mungkin kita sudah jauh lalai akan itu. Kebiasaan yang bisa membuat hubungan selalu erat untuk masa depan sesungguhnya. Sayang, kita sudah berseberangan. Kamu terlalu nyaman, dan aku mulai asyik dengan diriku. Salam untuk kenyamanan itu dan ke asyikan ini.
*cuplikan tulisan dari salah satu karya penulisnya. Anggap saja begitu 😊
Komentar
Posting Komentar