Syahdu
Malam ini terasa dingin sebelum adrenalin ku naik saat menyadari bahwa kamar tidur ini tak cukup udara bagiku. Ucapan selamat malam tak bisa berbisik di telinga saat tetesan air yang membasahi bumi semakin terdengar cepat. Entah kenapa ingatanku melayang di kamar ukuran 3*3,5 atau bahkan 3*4 yang aku pun ternyata lupa ukuran pastinya saat 4 tahun silam. Beberapa malam telah aku habiskan disana untuk kurun waktu yang lama. Aaaah kenapa aku selalu ingat malam-malam itu. Padahal banyak kisah ku selama 28 tahun silam lainnya. Itulah aku, cukup satu yang berkesan untuk waktu berjalan. Dinginnya malam itu sungguh terasa menusuk tulang. Terlebih lagi aku harus berlarian membeli sekotak makanan dengan sisa kantongku yang terakhir. Karena tak ada sisa di kantong, akupun berjalan kaki sampai di salah satu tempat ngopi kaki lima. Sampainya tengah malam tiba, entah kenapa raut wajahnya masih dingin. Bahkan saat potongan kue irisan daging extra cheese itu masuk ke dalam mulutnya. Banyak hal berkecamuk dalam benakku. Apa dia gak suka? Apa ini bukan yang dia harapkan? Apa dia menyesal ada disini dengan kami? Apa dia memikirkan kejutan yang dia cancel? Apa aku lakukan ini sia2? Entahlaaaah aku mulai tidak enak badan. Menggigil kedinginan dengan balutan cardigan hitam panjang dan kemeja merah garis hitam pada list kancingnya. Syahdu, tetesan air malam itu membuatku terdiam diantara obrolan malam mereka. Sesampainya pulang, tak ada sapaan atau pun sekedar ungkapan bahagia darinya. Jangankan terimakasih, aku tak sempat mengharapkan kata2 semacam itu. Canggung. Itulah suasana malam yang semakin terasa sesak untukku. Sampai akhirnya matahari terbit, kami tetap terjaga dengan kesendirian. Sampai detik ini, aku tak tau apa alasannya malam itu begitu dingin.
Penyesalan? Inikah aku baginya. Perempuan jorok selama dia kenal perempuan. Kurang bisa mengimbangi dibanding si lurus ikal keriting atau apapun itu. Tidak menarik untuk dilihat dalam pandangan jarak dekat. Norak tapi gak malu2in diajak jalan. Gak asik diajak ngobrol ketawa ketiwi. Hiasan hanger yang diambil sesukanya dan tergeletak di tumpukan hari itu juga. Itu aku? Faktanya, aku yang tak sengaja bersanding di sebelah pas photo nya.
Aku yang sampai saat ini menunggu kabarnya bahkan dalam satu kota. Aku yang menyiapkan kebutuhan yang masih saja cacat dan kurang. Dan lagi-lagi, syahdu. Malam ini aku tak sendiri lagi. Tak ada bedanya ceritaku dengannya. Masih sama pertanyaan dalam benakku. Yang membedakan adalah aku ditemani malaikat kecilku dalam setiap malamku. Good night.
Penyesalan? Inikah aku baginya. Perempuan jorok selama dia kenal perempuan. Kurang bisa mengimbangi dibanding si lurus ikal keriting atau apapun itu. Tidak menarik untuk dilihat dalam pandangan jarak dekat. Norak tapi gak malu2in diajak jalan. Gak asik diajak ngobrol ketawa ketiwi. Hiasan hanger yang diambil sesukanya dan tergeletak di tumpukan hari itu juga. Itu aku? Faktanya, aku yang tak sengaja bersanding di sebelah pas photo nya.
Aku yang sampai saat ini menunggu kabarnya bahkan dalam satu kota. Aku yang menyiapkan kebutuhan yang masih saja cacat dan kurang. Dan lagi-lagi, syahdu. Malam ini aku tak sendiri lagi. Tak ada bedanya ceritaku dengannya. Masih sama pertanyaan dalam benakku. Yang membedakan adalah aku ditemani malaikat kecilku dalam setiap malamku. Good night.
Komentar
Posting Komentar