Malam Kian Dingin
Entah apa judul paragraf ini. Sehingga aku memilih "Malam Kian Dingin". Inilah kutipan paragraf dari obrolan pribadi semalam. Jujur, kelopak mata bawahku memberat saat membacanya. Hanya saja aku tak bisa berbicara banyak. Yang aku bisa adalah mengucapkan syukur "Alhamdulillah. Terimakasih Yaa Allah. Semoga benar yang aku baca ini".
"Kamu tau..
Malam kian dingin.
Kamu tau..
Hujan kian deras.
Betapapun aku ingin.
Tapi hidup memang kian keras.
Tetap nyalakan suluh di teras rumah
Agar aku tak kehilangan arah.
Aku selalu yakin
Kamu tak akan pernah berhenti menemani perjuanganku. Tak akan pernah lelah menunggu.
Hingga nanti di suatu sore,
Kita habiskan kopi seduhanku berdua. Sambil berbincang tentang anak-anak kita. Tentang usia dan menertawakan segala kesusahan.
Hidup pasti membaik. Meski tak mudah.
Tetaplah bersamaku.
Kamu tau...
Aku tak pernah kehilangan cinta pada kamu."
"Kamu tau..
Malam kian dingin.
Kamu tau..
Hujan kian deras.
Betapapun aku ingin.
Tapi hidup memang kian keras.
Tetap nyalakan suluh di teras rumah
Agar aku tak kehilangan arah.
Aku selalu yakin
Kamu tak akan pernah berhenti menemani perjuanganku. Tak akan pernah lelah menunggu.
Hingga nanti di suatu sore,
Kita habiskan kopi seduhanku berdua. Sambil berbincang tentang anak-anak kita. Tentang usia dan menertawakan segala kesusahan.
Hidup pasti membaik. Meski tak mudah.
Tetaplah bersamaku.
Kamu tau...
Aku tak pernah kehilangan cinta pada kamu."
Komentar
Posting Komentar