Is It Love?
Saat ini waktu menunjukan pukul 1.07 am di Yogyakarta. Aku baru banget selesai nonton film "Twivortiare" di Netflix. Bergejolak perasaan dan pikiranku saat menonton film itu. Sampai akhirnya aku rasa harus menulis yang aku rasakan dan pikirkan. Kira-kira ini yang aku rasakan dan pikirkan setelah nonton film "Twivortiare : Is It Love?".
Usia pernikahanku bentar lagi delapan tahun. Dalam hal dinamika pernikahan, aku tidak mengatakan usia pernikahan kami seumur jagung. Ya karena nyatanya mau usia pernikahan berapapun, pasti dinamika dalam pernikahan itu terjadi dan beragam. Kayak aku dan suami, kami punya berbagai masalah kecil sampai besar. Pastinya kami juga punya kasih sayang dari yang kecil sampai yang besar. Hanya saja, saat masalah datang kami sama-sama lupa kasih sayang yang dimaksud pasangan. Dan saat kasih sayang datang ya jangan ditanyalah ya, siapa sih yang gak suka dengan perlakuan kasih sayang dalam pernikahan. Justru bisa bikin terlena kan nyampe lupa klo pasangan juga butuh diberi kasih sayang gara-gara udah terlena menerima dari pasangan.
Jujur waktu nonton film "Twivortiare", gejolak yang aku rasakan beragam di beberapa bagian adegan. Yang paling aku rasakan setelah film selesai, aku langsung bersyukur banget punya pasangan kayak suami aku. Serius. Kenapa bisa gitu? Jadi gini, sebenernya suami aku itu pernah bilang ke aku untuk jangan berharap minta dikejar saat ada masalah. Kenyataan yang bisa aku ambil pelajaran dari kalimat itu ada dua hal. Yang pertama, ternyata aku harus lebih bisa belajar untuk tidak mudah menyerah. Dan yang kedua, klo tidak dianggap sedang ada masalah namun menganggap pengejaran sebagai bentuk kasih sayang ternyata itu lebih baik. Kenapa?
Karena sampai saat ini meskipun kami pernah atau masih ada masalah cukup serius, suami tetap nyamperin aku dan aku pun tetap menyayanginya. Karena itu wujud kasih sayang. Padahal beneran deh, kami berjarak bukan niat aku untuk lari dan minta dikejar saja. Dari film tadi, ada beberapa poin penting dalam pernikahan. Satu, mau nikah berkali-kali sama orang yang sama klo gak ubah kebiasaannya ya hasilnya akan tetap sama. Dua, mau lebih membuka diri dengan orang lain selain pasangan ujung-ujungnya jadi senjata makan tuan dan tetap kepikiran pasangan.
Klo aku boleh bilang (sebenernya aku pengen sambil ada moment jalan berdua sih bilangnya), aku pengen bilang klo ternyata aku tuh sayang sama suamiku. Dan sikon kami sekarang lebih tepatnya adalah wujud aku pengen pernikahan kami keluar dari zona toleransinya maupun zona toleransiku. Saat ini aku tinggal di zona toleransiku (aku gak sebut zona nyaman, soalnya tetap ada dinamika juga namanya hidup), bukan berarti tidak ada masalah dengan lingkunganku. Pasti ada. Bedanya aku tetap mampu bertahan untuk tinggal. Sama halnya ketika terjadi di zona toleransinya suami. Bisa kah suami tinggal di zona toleransiku saat ini untuk menetap? Atau bisakah aku tinggal di zona toleransinya? Tidak untuk kurun waktu menetap, karena toleransinya pasti tidak sebesar toleransiku jika berada di zonaku. Begitu juga sebaliknya, ketika aku tinggal di zona toleransinya.
Jadi sebenernya, keberadaanku saat ini disini, di zona toleransiku dan suami di zona toleransinya adalah harapanku untuk sama-sama tidak berada di zona toleransi kami. Kami akan membentuk zona toleransi bersama sehingga bisa berdampingan dan lebih menghargai pasangan dalam menyikapi masalah apapun. Jika ditanya apakah sudah mampu membuat zona kami? Jawabannya, kami delapan tahun menikah dan keadaan ekonomi kami cukup di tengah. Bahkan keadaan ekonomi yang dibawah kami mampu kompromi untuk membuat zona toleransinya. Ketika ada faktor pertimbangan lain, selain dari rumah tangga, tandanya belum siap menjadi prioritas untuk utuh.
Ya, akan terulang lagi dinamika dalam hal permasalahan kami, jika kami menetap bersama di zona toleransiku ataupun toleransinya. Sama halnya yang terjadi di film tadi (coba tonton deh). Alhasil mereka saling menyadari dari harapan dan keinginan sudut pandang pasangannya. Kompromi untuk menetap di zona toleransi mereka, bukan di apartemen ataupun rumahmasa kecil mereka. Dengan usaha keluar dari kebiasaan, salah satunya menolak tawaran jabatan (suami), dan mendampingi suami tanpa bekerja ke New York (istri). Bahkan mereka menyadari bahwa motivasi dalam keinginan memiliki momongan mereka adalah keliru. Dengan mudahnya istri menyadari kekeliruan mereka, dan suami dengan kelembutan sikapnya meyakinkan istri untuk tidak akan terjadi lagi motivasi yang keliru untuk memiliki anak.
Dear my husband, sayangku terima kasih ya. Beberapa kali dalam setahun ini kamu telah menempuh jarak ratusan kilometer dengan menyetir kendaraan sendiri. Hari ini aku sangat bersyukur Allah masih jaga kamu untuk kita. Kamu sehat selamat sampai kembali lagi disana. Memang benar, dengan jarak aku sangat menikmati setiap detik pertemuan kita. Bukan berarti tidak ada cek cok kecil saat bertemu. Kenyataannya cek cok kecil saat bertemu lebih sering untuk tidak membesar. Entah karena kamu ataupun aku, yang pasti karena kesadaran kita masing-masing. Andai kamu tau, seberapapun jauhnya jarak tempuh kita, aku selalu kepikiran kamu bersamaan dengan perasaan merelakanmu. Artinya, aku gak bisa tanpa sosok dan kasih sayangmu, namun aku mampu merelakanmu jika itu harapanmu. Karena sebenarnya kebersamaan terwujud dengan adanya rasa saling mengasihi dan menyayangi, bukan sepihak. Sama-sama belajar yuk.
Love you.
Komentar
Posting Komentar