Pengalaman Cabut Gigi
Fokus pembahasan kali ini pada gigi molar pertama bawah. Kenapa fokus pada pembahasan ini? Karena kurang lebih delapan bulan ini aku sedang berkutat dengan gigi berlubang pada molar pertama bawah. Dan lebih tepatnya lagi, kemarin hari Kamis tanggal 24 Mei 2018 aku melakukan tindakan pada gigi tersebut ke dokter gigi. Ini cerita singkatnya dan pembahasan tentang molar pada rahang bawah.
Sebelum aku "curcol" tentang gigi molar, ini dia gambar untuk rahang bawah.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gigi_geraham
Awalnya gigi molar pertama (gigi ke enam dari depan) bawah aku lepas tambalan. Hal ini aku biarkan sekitar dua sampai tiga bulan. Salah aku sih, karena gak merasa nyeri aku diamkan saja dan terbiasa dengan lepasnya tambalan. Setelah terasa mengganjal dan mulai sering sakit kepala, aku pergi ke dokter gigi karena mungkin itu akibat gigiku yang berlubang. Aku periksa di salah satu klinik di Bandar Lampung yang suami istri adalah dokter gigi. Kebetulan aku dapet jadwal dengan pak dokter gigi karena aku kesana pas jadwal sore. Setelah dilakukan pembersihan pada gigi, dokter tersebut menyarankan untuk rontgen terlebih dahulu sebelum mengetahui separah apa gigi berlubang ini. Hasil rontgen menunjukkan bahwa gigi berlubang ini berliku dan sampai ke syaraf. Tindakan yang bisa dilakukan diobati dulu sakitnya, kemudian ditambal atau diobati dulu sakitnya kemudian dicabut jika tidak bisa dipertahankan. Oke, aku memilih untuk ditambal saja. Jadi hari itu sekitar delapan bulan yang lalu dokter mengobati terlebih dahulu dan ada jadwal kembali kontrol setelah tidak sakit lagi atau sudah tidak terasa nyeri nya. Diperkirakan dokter pengobatan ini sampai selesai menghabiskan biaya Rp 2.000.000,- dan bisa dibayarkan bertahap sampai selesai penanganan. Aku pun memberi DP Rp 700.000,- untuk pertama kali datang. Karena aktifitas dan rutinitas ku sebagai pegawai dengan cakupan wilayah kerja di lima provinsi, aku sulit mengatur jadwal ketemu kembali dengan dokter gigi tersebut.
Alhasil kemarin tanggal 24 Mei 2017 aku ke klinik pagi hari (karena gigi ku sedang tidak sakit dan kebetulan aku izin kantor karena kurang enak badan (influenza)). Jadwal pagi ternyata istri nya yang praktik. Aku jelaskan kronologi delapan bulan lalu dan dokter gigi cantik ini mengecek sebentar kondisi nya. Dokter langsung menyampaikan kalau ini penangan syaraf dan harus rujukan ke rumah sakit karena faskes tidak meng- "cover" nya ("well" ternyata pagi jadwal BPJS). Dokter awalnya merujuk ke Advent hingga akhirnya menawarkan ke aku apakah mau ke RS. Advent atau RS. Imanuel. Tanpa berpikir hal lain, aku memilih RS. Imanuel karena dekat dengan rumah. Sampai di RS. Imanuel aku diperiksa dengan seorang dokter cantik yang berkulit sawo matang separuh baya dengan rambut hitamnya yang diikat. Setelah aku berikan surat rujukan dari klinik, dokter ini mengecek kondisi gigi dengan bantuan alatnya. Dokter bertanya apakah mau ditambal atau dicabut? Jujur aku gak tau kondisi gigi ku sekarang bagaimana setelah delapan bulan berlalu. Yang aku tau tambalan ku lepas dan terlihat lah lubang besar pada gigi. Untuk sakit, aku jarang merasakan sakit kalau menjaga pola makan yang aku konsumsi. Jadi, aku jawab, "Saran dokter bagaimana? Saya tidak tau yang terbaik tindakan apa". Kemudian dokter menyarankan untuk dicabut. "Oke silahkan dokter", jawabku.
Dokter kembali ke meja nya dan kembali menghampiriku dengan selembar kertas. Beliau menjelaskan surat pernyataan yang harus aku tandatangani. Kurang lebih isinya tentang persetujuan aku untuk dicabut dengan segala manfaat dan resiko nya. Selesai aku tandatangan, dokter mulai persiapan untuk mencabut. Aku pun bertanya, "Apa gak perlu di rontgen dulu, Dok?". Dan dokter bilang gak usah.
Oke "fine", bius lokal dilakukan dan "well" lumayan ya rasanya. Setelah dinding mulut terasa tebal, dokter mulai proses pencabutan dibantu asistennya. Selama proses berlangsung, aku merasakan sakit yang luar biasa pada rahang berlawanan ku, sisi kanan bawah terasa bergerak. Kemudian kepalaku sakit sekali dibagian kanan. Padahal yang ditanganin dokter adal gigi molar pertama kiri bawah. Sampai kurang lebih satu jam, asisten dokter yang memegang kepala ku dan menutup kupingku bicara ke dokter tersebut, "Hypercementosis dokter".
Gak lama dokter berhenti dan bilang kalau ini butuh dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap alat nya. Karena gigi terlalu kuat dan tidak bergerak. Kemungkinan akar gigi ada di tulang. Jika tindakan cabut gigi diteruskan dikhawatirkan tulang nya yang akan patah (okee so, kenapa tadi gak di rontgen dulu). Baiklah aku oke dengan selembar rujukan baru di tanganku dan pulang.
Aku gak segera ke rumah sakit sesuai rujukan tersebut. Kondisinya sudah siang dan gigi ku masih pendarahan. Bius lokal itu juga masih sedikit terasa yang mengakibatkan rasa penebalan pada pipi dan bibir. Jadi aku pulang kemudian bertukar pikiran dengan orang yang pernah sakit syaraf gigi dan "searching" melalui google untuk hal yang aku alami.
Hasilnya, sebagian besar menyarankan untuk tanya kondisi nya terlebih dahulu ke dokter. Dan pastikan dengan rontgen. Sebisa mungkin jika dilakukan pengobatan syaraf atau infeksi nya dulu kemudian boleh ditambal, maka lebih baik tambal saja dari pada cabut. Pengalaman pribadi, ketika mencabut gigi permanen tanpa rontgen, tidak akan tau posisi di dalam gusi. Apakah tertimpa gigi lain ataukah akar nya kuat dan sampai ke tulang atau aman untuk dicabut. Sejauh ini, gigi berlubang bisa dilakukan perawatan saluran akar terlebih dahulu kemudian ditambal untuk memperkuat mahkota gigi ( https://jurnal.ugm.ac.id/mkgi/article/view/16491 ). Dan jika memang harus dicabut, maka perhatikan kondisi gigi yang akan dicabut. Jangan sampai gigi tersebut dalam kondisi sakit nyeri saat dicabut. Begini alasannya :
"Mencabut gigi saat gigi sakit akibat infeksi bisa menyebabkan :
- Perdarahan yang lebih banyak.
- Rasa nyeri yang masih terasa.
- Efek obat bius yang berkurang.
- Penyebaran infeksi dari gigi ke gigi lain atau tulang.
Maka dari itu memang sangat tidak disarankan untuk mencabut gigi saat sedang sakit. Sebaiknya Anda mencari penyebab gigi sakit Anda dan memberikan pengobatan terlebih dahulu. Setelah nyeri berkurang maka tindakan pencabutan atau penambalan gigi bisa dilakukan agar nyeri gigi tidak kembali lagi. Baca artikel Alasan cabut gigi yang tepat. Untuk mengurangi nyeri gigi, Anda bisa melakukan :
- Memberikan minyak cengkeh kepada gigi yang nyeri.
- Minum obat pereda nyeri.
- Minum antibiotik sesuai anjuran dokter.
- Mengompres pipi di bagian dekat gigi yang nyeri."
( sumber : https://www.alodokter.com/komunitas/topic/gigi-graham-bawah-kiri-saya-berlubang-parah-apa-harus-di-cabut )
Cabut gigi diperlukan untuk beberapa kondisi darurat. Jika memang sangat mengganggu kesehatan atau untuk keperluan tindakan medis (kemoterapi atau operasi kesehatan lainnya), maka dianjurkan untuk cabut gigi.
"Alasan dilakukan Cabut Gigi
Ada beberapa alasan seseorang mencabut gigi, baik karena alasan medis maupun estetika. Berikut ini adalah beberapa alasan seseorang mencabut gigi yang biasa disampaikan kepada dokter gigi.
1. Infeksi gigi
Infeksi pada gigi biasanya menimbulkan nyeri berdenyut yang sangat mengganggu. Sebaiknya segera kunjungi dokter gigi jika kondisi ini terjadi.
Dokter gigi akan memeriksa seberapa parah kerusakan yang terjadi. Selain itu, dokter gigi akan menilai apakah infeksi sudah sampai ke bagian tengah gigi (pulpa), yaitu lokasi pembuluh darah dan saraf. Cabut gigi bisa dilakukan jika dokter menilai infeksi tidak bisa disembuhkan dengan minum antibiotik atau setelah perawatan akar gigi tidak berhasil.
2. Gigi bertumpuk
Siapa pun ingin memiliki susunan gigi yang rapi. Sayangnya, banyak hal yang bisa membuat susunan gigi tidak rapi dan bertumpuk. Faktor keturunan, efek penggunaan dot hingga usia di atas 3 tahun, kebiasaan mengisap jempol di masa kecil, hingga perawatan gigi yang buruk merupakan beberapa hal yang mungkin menyebabkan gigi bertumpuk.
Jika ini dialami dan dirasa mengganggu kesehatan atau penampilan, periksa ke dokter. Dokter mungkin akan merekomendasikan pencabutan gigi untuk memperbaiki susunan gigi yang bertumpuk dan berantakan. Penggunaan kawat gigi mungkin juga akan direkomendasikan untuk memperbaiki posisi gigi.
3. Gigi bungsu
Gigi bungsu yang tumbuh tidak normal ditandai dengan posisi gigi bungsu yang miring ke depan atau belakang, posisi “tidur” ke arah samping, hanya keluar setengah atau terperangkap dalam tulang rahang, dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit. Jika gigi bungsu bermasalah, cabut gigi akan direkomendasikan demi mencegah terjadinya kerusakan gigi ataupun masalah gigi lainnya.
Penyakit periodontal
Penyakit periodontal, seperti periodontitis yang adalah infeksi pada gusi dan jaringan di sekitarnya, dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitar gigi, sehingga gigi akan menjadi goyang. Saat gigi goyang, cabut gigi dapat menjadi pilihan untuk mengatasinya.
4. Mengganggu kesehatan tubuh
Cabut gigi mungkin perlu dilakukan pada seseorang yang mengalami infeksi gigi bersamaan dengan penyakit lainnya. Misalnya pada seseorang yang sedang melakukan kemoterapi, sistem kekebalan tubuhnya tidak dalam kondisi optimal, atau orang yang hendak menjalani transplantasi organ. Pada kondisi ini, cabut gigi perlu dilakukan karena infeksi gigi dapat membahayakan kesehatan tubuh secara umum.
Yang Perlu Dilakukan Setelah Cabut Gigi
Proses penyembuhan setelah melakukan cabut gigi biasanya memakan waktu beberapa hari. Selama proses penyembuhan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Berisitirahat dari aktivitas berat demi mencegah terjadinya pendarahan.
- Jika tak tahan dengan rasa nyeri yang mungkin timbul, minumlah obat pereda nyeri yang diresepkan dokter.
- Ganti kain kasa yang digunakan untuk menyumbat perdarahan setelah pencabutan secara teratur.
- Tetap membersihkan gigi dan lidah dengan cara menyikat pelan-pelan dan hati-hati.
- Berkumur dengan air garam hangat. Lakukan 24 jam setelah cabut gigi untuk mencegah pembengkakan.
- Jangan langsung makan makanan padat atau
- Cegah perdarahan saat tidur dengan cara memakai bantal agak tinggi.
- Selama proses penyembuhan hindari rokok."
( sumber : https://www.alodokter.com/cabut-gigi-harus-punya-alasan-tepat )
Sebagai informasi, seperti apakah perawatan saluran akar itu? Inilah penjelasannya :
"Seperti yang mungkin Anda telah ketahui, gigi terdiri dari 2 bagian, yaitu mahkota dan akar. Di dalam mahkota dan saluran akar gigi ada yang dinamakan pulpa -di mana jaringan saraf, pembuluh darah dan sel-sel lainnya berada. Dengan adanya pulpa, gigi tetap terjaga kesehatannya karena tetap teraliri darah dan memiliki saraf yang sehat.
Namun, karena banyak faktor, seperti kebersihan gigi dan mulut yang buruk, sering ditemukan gigi yang berlubang. Jika tidak segera dirawat oleh dokter gigi, lubang gigi dapat mencapai pulpa sehingga pulpa menjadi terbuka. Saat pulpa telah terbuka, bakteri-bakteri dari luar gigi dapat masuk ke dalam pulpa dan pada akhirnya akan merusak pulpa dan menyebabkan infeksi pada gigi. Jika tidak segera ditangani, infeksi akan menyebar ke sekililingnya. Kerusakan pada pulpa ini akan membuat gigi sensitif terhadap suhu panas dan dingin sehingga kesulitan untuk makan dan minum. Bahkan sebagian orang akan merasakan rasa sakit yang berdenyut dan terus menerus.
Perawatan saluran akar, atau biasa disebut sebagai perawatan endodontik (berasal dari Bahasa latin yang berarti “di dalam gigi”), dapat mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman yang disebabkan oleh rusaknya pulpa di dalam gigi, sekaligus menghentikan penyebaran infeksi ke daerah sekeliling gigi yang rusak. Apa saja, sih, yang dilakukan saat perawatan tersebut? Berikut adalah tahap-tahapnya:
Pembersihan saluran akar. Sebelum tahap pertama ini, dokter gigi Anda akan melakukan foto x-rayatau foto rontgen untuk mendapatkan gambaran saluran akar gigi Anda dan memberi penilaian terhadap kerusakan yang terjadi serta pendekatan apa yang harus dilakukan. Pada tahap ini, dokter gigi akan membersihkan seluruh bagian saluran akar, termasuk membuang pulpa yang telah rusak dan terinfeksi. Hal ini dilakukan agar gigi Anda terbebas dari bakteri-bakteri dan infeksi yang akan merusak gigi Anda lebih jauh. Dokter gigi akan membuat lubang di atas masing-masing saluran gigi Anda (pada umumnya gigi mempunyai 1-3 saluran akar), lalu memasukan file atau jarum kecil untuk membersihkan saluran akar. Anda tidak perlu khawatir, Anda tidak akan merasakan sakit karena dokter gigi akan memberikan gigi Anda anestesi terlebih dahulu.
Pengisian saluran akar. Setelah dibersihkan dan dikosongkan, saluran akar akan diisi dan ditutup menggunakan suatu bahan kedokteran gigi agar bakteri tidak dapat masuk lagi ke dalam saluran akar. Praktis, setelah tahap 1 & 2 ini, Anda tidak akan merasakan sakit lagi karena jaringan saraf telah dibuang dan infeksi telah hilang.
Menambal atau memasang mahkota buatan. Setelah melalui tahap awal perawatan saluran akar, gigi akan menjadi lebih ringkih karena isi dari saluran akar sudah tidak ada. Gigi Hanya akan mendapatkan sokongan fisik dari tulang dan otot sekitar gigi dan tentunya hal ini tidak cukup, maka itu diperlukan tambalan atau mahkota buatan agar gigi dapat terlindung lebih baik. Dokter gigi Anda akan menentukan apakah tambalan atau mahkota buatan yang lebih tepat untuk keadaan gigi Anda."
Oiya, ketika kalian akan melakukan perawatan gigi, pastikan kalian tau spesialis gigi apa yang kalian butuhkan ya. Jangan sampai salah ke dokter gigi. Ini dia beberapa gelar spesialis dokter gigi beserta penjelasannya: ( sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kedokteran_gigi )
"Spesialisasi dalam kedokteran gigi antara lain:
Bedah mulut dengan Gelar Sp.BM
Endodonsia (Konservasi Gigi) dengan Gelar Sp.KG
Oral Medicine (Penyakit Mulut) dengan Gelar Sp.PM
Ortodonsia dengan Gelar Sp.Ort
Pedodonsia (Ilmu Kedokteran Gigi Anak) dengan Gelar Sp.KGA
Periodonsia (Jaringan Gusi dan Penyangga Gigi) dengan Gelar Sp.Perio
Prostodonsia (Restorasi Rongga Mulut) dengan Gelar Sp.Pros
Radiologi Kedokteran Gigi dengan Gelar Sp.RKG
Yang terbanyak adalah Dokter Gigi Ortodonsia, mengurusi antara lain Gigi Tongos, karena di Indonesia masih dipentingkan Penampilan dan Bukannya Fungsi Gigi. Sedangkan yang lainnya walaupun sudah mengambil Sub-spesialis, kadang-kadang tidak mencantumkan keahliannya tersebut, karena masyarakat tidak mengenalnya dan menyaru sebagai Dokter Gigi Umum, karena secara etika Dokter Gigi dengan Sub-spesialis seharusnya hanya mengurusi bagiannya saja.
Dokter Gigi Bedah Mulut kadang-kadang disebut 'Tukang Jagal', karena prinsip kerjanya adalah membuang yang dianggap tidak berguna, misalnya pada kecelakaan, gigi yang hampir copot dicabut saja, padahal masih dapat dipertahankan, tetapi dengan biaya yang besar.
Dokter Gigi Konservasi Gigi, prinsipnya mempertahankan gigi, misalnya gigi yang akarnya infeksi diobati agar gigi tersebut tidak copot dan masih dapat difungsikan, demikian juga dalam kasus kecelakaan.
Dokter Gigi Anak, banyak yang tidak tahu bahwa sejak gigi anak mulai tumbuh sebaiknya dilakukan kontrol ke Dokter Gigi Anak, jika biaya tidak menjadi halangan, agar Gigi Anak itu tumbuh dengan baik, teratur dan sehat.
Dokter Gigi Periodonsia, menumbuhkan jaringan gusi dan menjaga agar tulang alveolar yang mengapit gigi tidak menciut, dimana hal ini dapat terjadi karena salah dalam cara menyikat gigi, adanya karang gigi yang jarang dibersihkan dan akhirnya menimbulkan abses pada gusi. Karang Gigi harus dibersihkan setengah tahun sekali, ada atau tidak ada lubang yang perlu ditambal, terutama bagi Penderita Diabetes melitus, karena Karang Giginya biasanya banyak. Dengan perawatan Periodonsia yang baik, maka gigi tak akan goyah apalagi sampai copot, karena gigi seharusnya akan bersama kita seterusnya sampai waktu kita meninggal. Jika sudah goyah berarti sudah parah. Sebenarnya Dokter Gigi Umum dapat membersihkan Karang Gigi, tetapi tidak seahli Dokter Gigi Periodonsia, apalagi jika harus menumbuhkan Jaringan Gusi yang menciut dengan Kuret, Root Canal ataupun Bedah Flap.
Dokter Gigi Prostodonsia, cocok untuk pasien sumbing, terutama jika langit-langitnya juga terbelah. Pasien Sumbing kini dapat juga ditangani oleh Dokter THT-LK dan juga Dokter Spesialis Bedah Plastik. Dokter mana yang tepat sebaiknya kita yang menentukan, karena ketiga jenis dokter tersebut berusaha untuk melakukan pembedahan. Jika hanya Sumbing di bibir dapat menggunakan Dokter Spesialis Bedah Plastik.
Dokter Radiologi Kedokteran Gigi, biasanya menangani pasien kanker."

Komentar
Posting Komentar