Satu Tahun Silam
Tepat tanggal ini, satu tahun yang lalu.
Malam itu bagai mimpi, membaca pesan dari mu.
Larut malam.
Di dalam kereta sendirian, bertubi-tubi kau kirimkan pesan.
Aku balas, aku respon.
Tidak percaya dan masih tetap tidak percaya.
Satu yang kuingat jelas,
Kamu bilang bahwa kamu sayang padaku.
Berkali-kali ku baca pesan itu.
Kuulang dan ku telaah.
"Hah?! Apa aku salah baca ya?"
Ternyata benar adanya, kamu ungkapkan rasa bahwa sayang kepadaku.
Jujur aku tak ingin gegabah.
Aku tak percaya akan itu semua.
Dipikiranku, kamu terlalu mudah untuk mengungkapkannya.
Dan mungkin terlalu terbiasa.
Yaa hanya sesaat.
Aku pun tak bisa memanggil sayang semudah kamu memanggilku.
Hanya aku sadari, aku memang tidak bisa dekat dengan beberapa orang dalam satu waktu.
Sial. Itu yang membuatku tak ingin untuk gegabah.
Malam itu kita tak ada kesimpulan yang pasti.
Yang kita tahu, kamu bilang sayang padaku.
Dan aku merespon setiap ucapanmu namun belum bisa membalas ungkapanmu.
Aku bilang terimakasih kalau kamu sayang aku, aku tidak bisa memanggil sayang untuk sembarang orang.
Bahkan aku bedakan panggilan ku untuk orang yang dekat dengan ku.
Jalani saja dulu, saling mengenal.
Yaa masih terlalu cepat.
Sampai akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku.
Aku berusaha untuk tidak mengambil serius pesan malam itu.
Aku tidak ingin memulai obrolan-obrolan terlebih dahulu selepas malam itu.
Selepas itu kamu tetap menghubungi aku.
Menanyakan kabar, telpon, kirim pesan, mengucapkan sapaan pagi siang malam.
Yaa akhirnya rutin.
Sadar atau tidak, aku mencoba untuk tidak membalas pesan mu.
Aku mencoba untuk mengakhiri obrolan kita.
Aku ingin tahu apa kamu tetap menghubungi aku.
Yaa ternyata kamu tetap menghubungi aku.
Baiklah, aku mulai memikirkan pesan ungkapan sayang mu malam itu.
Aku mencoba ingin tahu tentang kamu dan mengenali mu lebih dalam.
Beberapa hari telah berlalu.
Tanggal 30 November silam, kamu menanyakan kepadaku.
Bagaimana kejelasan hubungan kita ini?
Aku pun ragu menjawabnya, aku memang sudah mulai tertarik.
Treatment yang kamu berikan kepadaku membuat aku nyaman.
Namun aku masih tidak percaya.
Kamu terlalu cepat.
Dipikiranku, kamu terbiasa mengungkapkan sayang.
Kamu terbiasa memanggil sayang dengan siapa pun yang dekat dengan mu.
Aku tidak bisa begitu.
Aku bilang, apakah kamu serius?
Aku tidak melihat ekspresi wajahmu.
Aku tidak mendengar langsung dari mulutmu.
Aku tidak bisa memberi kepastian.
Kamu pun mengatakan bahwa jarak kita jauh.
Kalau aku ada di sana, kamu akan mengungkapkan nya langsung.
Tanpa pesan atau telpon.
Kamu pun akhirnya mengatakan bahwa akan mengunjungi aku dan menemui aku.
Pertengahan bulan di akhir tahun.
Yaa aku tunggu kalau memang benar.
Tanggal 02 akhir tahun.
Telepon berdering lagi.
Dan lagi-lagi itu dari kamu.
Kuangkat seperti biasa, panggilan sayang mu kepadaku masih terdengar jelas.
Obrolan, obrolan berlanjut.
Hingga akhirnya kamu tanyakan padaku.
Apakah aku sayang kepadamu?
Kenapa aku respon kamu terus?
Dan kamu meyakinkanku bahwa sebenarnya aku sayang sama kamu dengan tawa kecilmu itu.
Hahaha lucu, Percaya Diri mu memang berlebih.
Yaa aku jawab bahwa aku tertarik sama kamu.
Aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu.
Aku mulai merasa sepi kalau tdak ada sapaanmu.
Entahlah, aku sayang sama kamu.
Terlepas dari rasa tidak percaya ku akan perlakuan mu yang terlalu cepat.
Kamu tersenyum, tertawa, senang, entah bahagia atau itu simbol untuk ungkapan.
"Hahahaa akhirnya"?
"Tuh kan dapat juga"?
Entah apa pun itu, kamu tertawa dan mengucapkan terimakasih padaku.
Yaa aku panggil sayang semenjak itu.
Dan kamu berjanji akan datang menemui aku.
Mendekati pertengahan bulan akhir tahun.
Kamu hubungi aku dan menceritakan bahwa masih ada kerjaan yang belum selesai.
Setelah pekerjaan selesai kamu janji akan menemui aku.
Aku sempat berpikir, sebegitu pentingnya sampai janji tidak ditepati.
Aku pun menepis pikiranku.
Tidak perlu berharap untuk datang.
Dari pada sakit hati tidak jadi datang.
Mungkin ada yang lebih penting.
Aku pun tidak harap-harap cemas lagi.
Hanya berdoa dan tetap dengan aktivitasku.
Kamu memberi kabar.
Hari Rabu akan berangkat dari ibu kota sendirian.
Namun ternyata tidak jadi.
Ada kendala.
Hari Kamis kamu singgah ke Paris Van Java menjemput Om kamu.
Yaa kamu akan ditemani dalam perjalanan menuju ke kota kelahiranku.
Hari Jum'at kalian berangkat dari PVJ.
Sabtu siang, 29 Desember, kamu tiba.
Yaa tidur istirahat sejenak.
Mulai hari itu kisah kita dimulai lebih dalam.
Tanggal 02 Januari larut malam, kamu mengatakan kepada kedua orang tua ku bahwa kamu serius menjalin hubungan dengan aku.
Janji.
Akankah janji suci itu menjadi kenyataan.
Hai jujur saat ini aku rindu akan semua itu.
Malam itu bagai mimpi, membaca pesan dari mu.
Larut malam.
Di dalam kereta sendirian, bertubi-tubi kau kirimkan pesan.
Aku balas, aku respon.
Tidak percaya dan masih tetap tidak percaya.
Satu yang kuingat jelas,
Kamu bilang bahwa kamu sayang padaku.
Berkali-kali ku baca pesan itu.
Kuulang dan ku telaah.
"Hah?! Apa aku salah baca ya?"
Ternyata benar adanya, kamu ungkapkan rasa bahwa sayang kepadaku.
Jujur aku tak ingin gegabah.
Aku tak percaya akan itu semua.
Dipikiranku, kamu terlalu mudah untuk mengungkapkannya.
Dan mungkin terlalu terbiasa.
Yaa hanya sesaat.
Aku pun tak bisa memanggil sayang semudah kamu memanggilku.
Hanya aku sadari, aku memang tidak bisa dekat dengan beberapa orang dalam satu waktu.
Sial. Itu yang membuatku tak ingin untuk gegabah.
Malam itu kita tak ada kesimpulan yang pasti.
Yang kita tahu, kamu bilang sayang padaku.
Dan aku merespon setiap ucapanmu namun belum bisa membalas ungkapanmu.
Aku bilang terimakasih kalau kamu sayang aku, aku tidak bisa memanggil sayang untuk sembarang orang.
Bahkan aku bedakan panggilan ku untuk orang yang dekat dengan ku.
Jalani saja dulu, saling mengenal.
Yaa masih terlalu cepat.
Sampai akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku.
Aku berusaha untuk tidak mengambil serius pesan malam itu.
Aku tidak ingin memulai obrolan-obrolan terlebih dahulu selepas malam itu.
Selepas itu kamu tetap menghubungi aku.
Menanyakan kabar, telpon, kirim pesan, mengucapkan sapaan pagi siang malam.
Yaa akhirnya rutin.
Sadar atau tidak, aku mencoba untuk tidak membalas pesan mu.
Aku mencoba untuk mengakhiri obrolan kita.
Aku ingin tahu apa kamu tetap menghubungi aku.
Yaa ternyata kamu tetap menghubungi aku.
Baiklah, aku mulai memikirkan pesan ungkapan sayang mu malam itu.
Aku mencoba ingin tahu tentang kamu dan mengenali mu lebih dalam.
Beberapa hari telah berlalu.
Tanggal 30 November silam, kamu menanyakan kepadaku.
Bagaimana kejelasan hubungan kita ini?
Aku pun ragu menjawabnya, aku memang sudah mulai tertarik.
Treatment yang kamu berikan kepadaku membuat aku nyaman.
Namun aku masih tidak percaya.
Kamu terlalu cepat.
Dipikiranku, kamu terbiasa mengungkapkan sayang.
Kamu terbiasa memanggil sayang dengan siapa pun yang dekat dengan mu.
Aku tidak bisa begitu.
Aku bilang, apakah kamu serius?
Aku tidak melihat ekspresi wajahmu.
Aku tidak mendengar langsung dari mulutmu.
Aku tidak bisa memberi kepastian.
Kamu pun mengatakan bahwa jarak kita jauh.
Kalau aku ada di sana, kamu akan mengungkapkan nya langsung.
Tanpa pesan atau telpon.
Kamu pun akhirnya mengatakan bahwa akan mengunjungi aku dan menemui aku.
Pertengahan bulan di akhir tahun.
Yaa aku tunggu kalau memang benar.
Tanggal 02 akhir tahun.
Telepon berdering lagi.
Dan lagi-lagi itu dari kamu.
Kuangkat seperti biasa, panggilan sayang mu kepadaku masih terdengar jelas.
Obrolan, obrolan berlanjut.
Hingga akhirnya kamu tanyakan padaku.
Apakah aku sayang kepadamu?
Kenapa aku respon kamu terus?
Dan kamu meyakinkanku bahwa sebenarnya aku sayang sama kamu dengan tawa kecilmu itu.
Hahaha lucu, Percaya Diri mu memang berlebih.
Yaa aku jawab bahwa aku tertarik sama kamu.
Aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu.
Aku mulai merasa sepi kalau tdak ada sapaanmu.
Entahlah, aku sayang sama kamu.
Terlepas dari rasa tidak percaya ku akan perlakuan mu yang terlalu cepat.
Kamu tersenyum, tertawa, senang, entah bahagia atau itu simbol untuk ungkapan.
"Hahahaa akhirnya"?
"Tuh kan dapat juga"?
Entah apa pun itu, kamu tertawa dan mengucapkan terimakasih padaku.
Yaa aku panggil sayang semenjak itu.
Dan kamu berjanji akan datang menemui aku.
Mendekati pertengahan bulan akhir tahun.
Kamu hubungi aku dan menceritakan bahwa masih ada kerjaan yang belum selesai.
Setelah pekerjaan selesai kamu janji akan menemui aku.
Aku sempat berpikir, sebegitu pentingnya sampai janji tidak ditepati.
Aku pun menepis pikiranku.
Tidak perlu berharap untuk datang.
Dari pada sakit hati tidak jadi datang.
Mungkin ada yang lebih penting.
Aku pun tidak harap-harap cemas lagi.
Hanya berdoa dan tetap dengan aktivitasku.
Kamu memberi kabar.
Hari Rabu akan berangkat dari ibu kota sendirian.
Namun ternyata tidak jadi.
Ada kendala.
Hari Kamis kamu singgah ke Paris Van Java menjemput Om kamu.
Yaa kamu akan ditemani dalam perjalanan menuju ke kota kelahiranku.
Hari Jum'at kalian berangkat dari PVJ.
Sabtu siang, 29 Desember, kamu tiba.
Yaa tidur istirahat sejenak.
Mulai hari itu kisah kita dimulai lebih dalam.
Tanggal 02 Januari larut malam, kamu mengatakan kepada kedua orang tua ku bahwa kamu serius menjalin hubungan dengan aku.
Janji.
Akankah janji suci itu menjadi kenyataan.
Hai jujur saat ini aku rindu akan semua itu.
Komentar
Posting Komentar